0
Nyepi Salah Satu Bukti Orang Hindu Tidak Toleran

Surat Pembaca:

Nyepi Salah Satu Bukti

Orang Hindu Tidak Toleran

  • Ini merupakan salah satu bentuk kezaliman umat Hindu kepada umat beragama lainnya.

 

SALAH satu bukti bahwa orang Hindu tidak toleran terhadap umat beragama lainnya bisa dibuktikan melalui implementasi Nyepi setiap tahunnya. Di Bali, saat Hari Raya Nyepi berlangsung, diberlakukan peraturan yang harus dipatuhi oleh umat beragama lain, yang berarti memaksakan agama Hindu kepada warga Bali non Hindu.

Saat Nyepi, aktivitas sehari-hari dihentikan selama 24 jam, termasuk pelayanan umum, kecuali rumah sakit. Lampu-lampu jalan dipadamkan, bahkan setiap rumah tanpa terkecuali tidak diperkenankan menghidupkan lampu atau menyalakan api, dan ini merupakan salah satu bentuk kezaliman umat Hindu kepada umat beragama lainnya.

Melalui nyepi ini umat Hindu diharapkan lebih fokus berdoa dan memohon kepada Dewa untuk menyucikan manusia dan alam semesta. Ritual dan keyakinan tersebut sesunguhnya khas Hindu yang tidak sepatutnya memberi ‘dampak’ kepada umat non Hindu.

Meski agama Hindu konon lebih tua dari agama Islam dan Kristen, namun pelaksanaan Nyepi ini baru berlangsung mulai tahun ke-78 Masehi. Artinya, tahun baru Caka umat Hindu kali ini adalah yang ke 1935, relatif muda dibanding keberadaan agama Hindu yang sudah hadir jauh sebelum Islam dan Kristen.

Boleh jadi, perayaan Nyepi yang dilaksanakan bertepatan dengan tahun baru Caka ini, merupakan ritual khas Hindu Bali semata, yang kemungkinan di mata umat Hindu lainnya merupakan (semacam) bid’ah alias bukan ajaran pokok Hindu mainstream. Lha, (semacam) bid’ah inilah yang kemudian dipaksakan kepada umat non Hindu. Apakah di Indonesia ini memang satu agama minoritas pun boleh memaksa seluruh warga Indonesia? Kalau tidak, kenapa listrik pun konon dimatikan dari gardunya di Bali, sedang tanggalan secara nasional pun tanggal merah alias libur nasional?

Tampaknya baik penguasa di daerah maupun pusat telah menginjak-injak hak mayoritas penduduk yakni Umat Islam, tanpa menghargai hak berkeyakinan Islam. Karena dalam Islam, urusan keyakinan agama lain itu tidak boleh sama sekali diikuti oleh Umat Islam. Mengikuti secara sukarela saja tidak boleh, apalagi ini dipaksa. Yang ada di Bali dipaksa dengan matinya listrik dan sebagainya, sedang se-Indonesia di luar Bali dipaksa untuk tidak ada pelayanan di kantor-kantor pemerintah karena libur.

Sebagai Umat Islam, saya semakin faham benarnya ayat Allah Ta’ala:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS Al-Mumtahanah/ 60: 4).

Joko Wijoyo, Godong, Jawa Tengah

(nahimunkar.com)

Sumber:

http://nahimunkar.com/surat-pembaca-nyepi-salah-satu-bukti-orang-hindu-tidak-toleran/

Tags: , ,

Leave a Reply