0
Media Dakwah 301 Rabiul Awal 1420 H (Juli 1999)
Media Dakwah 301 Rabiul Awal 1420 H (Juli 1999)

Media Dakwah 301 Rabiul Awal 1420 H (Juli 1999)

Kasus Penculikan, Perkosaan, Pembabtisan paksa Khairiyah

Kristenisasi bukannya susut tapi justru malah semakin menggila. Ranah Minang yang terkenal gudangnya Intelektual Muslim, kini gempar dengan modus operandi pemaksaan pindah agama.

USAI hiruk pikuk pemilu, kawasan ranah Minang Sumatera Barat digemparkan oleh kasus Khairiyah Eniswan. gadis 17 tahun, siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN-2), Gunung Pangilun, Sumatera Barat. Mingguan lokal Bijak melaporkan, Khairiyah harus mengalami nasib mengenaskan: diculik, diperkosa, jilbabnya dicopot, dan dibaptis secara paksa. Berikut kami kutipkan laporan Mingguan Bijak:

Gadis itu bernama Qairiyah Eniswan, 17 tahun, akrab dipanggil Wawah. Wawah tak menduga kalau nasibnya sekelam itu. Perkenalan di jalan dengan seorang gadis, yang juga sama-sama berjilbab, awalnya berlangsung akrab. Maklum, keduanya hampir memiliki wajah yang sama. Tapi, kemiripan wajah itu hanya simbol untuk menggoyang iman Wawah. Belakangan, gadis itu mengaku tidak muslimah. Jilbab yang dipakai hanya kedok untuk menyeret Wawah ke dalam iman yang diyakininya: Kristen Protestan.

Kepada Wawah gadis itu mengaku bernama Lia. Perkenalan pertama dengan Wawah sekitar Maret 1998. Wawah kos bersama kakaknya, Wardah, mahasiswi IAIN Imam Bonjol Padang, di Surau Balai Anduring. Setiap pagi, dari Anduring ke MAN 2 Gunung Pangilun, Wawah tiap hari naik angkot ke Siteba di depan Mesjid Istiqamah Sawahan. Di situ pula, Lia sama-sama menunggu angkot. Mungkin sudah dirancang. Lia selalu menaiki angkot yang ditumpangi Wawah. Sebelum Wawah turun di MAN 2 Gunung Pangilun, Lia lebih dahulu turun di kawasan Jati Adabiah.

Sekitar April 1998, Lia memperkenalkan diri kepada Wawah. Dari perkenalan dan pertemuan setiap hari itu, keduanya jadi akrab. Keduanya saling mengunjugi ke rumah masing-masing.

Majalah MEDIA DAKWAH no. 301 edisi Rabiul Awal 1420 H (Juli 1999), hal. 28

Majalah MEDIA DAKWAH no. 301 edisi Rabiul Awal 1420 H (Juli 1999), hal. 28

Baru sebulan berteman, Lia membuka jauh jatidirinya. Katanya dia dulu beragama Islam. Kini sudah pindah ke Kristen Protestan. Kepada Wawah Lia pun menjelek-jelekkan aqidah Islam. Lia pun memperlihatkan foto-foto pribadi bagaimana nikmatnya jadi seorang Kristen protestan. Juga, ada foto-foto bugil Lia yang sepintas mirip dengan wajah Wawah. Ujungnya, Wawah diajak keluar dari agama Islam.

Wawah kagct. Masih dengan rasa hormat, Wawah pamit dan tidak lagi datang-datang ke rumah Lia. Tapi beberapa waktu kemudian, suatu malam Lia balik datang ke Surau Balai. Saat itu, Wardah, sedang tidak di rumah. Lia lalu mengajak Wawah jalan-jalan. Seperti kena hipnotis, Wawah mengikuti saja. Padahal, sebelumnya ia sudah benci dengan Lia.

Setelah putar-putar mengelilingi kota, kendaraan yang mereka tumpangi (angkot merah Anduring – Pasar Raya, Red) memasuki halaman Gereja Kristen Protestan Indonesia Barat (GPIB) di Jalan Bagindo Azizehan Padang. Di situ rupanya sudah menunggu Pendeta Willy dan sejumlah umat gereja GPIB yang lain. Wawah memberontak dan ingin lari. Tapi ia seperti dalam lingkaran setan.

Wawah menangis dan memekik. Suaranya terhalang dinding lebal gereja GPIB itu. Lia, gadis berjiibab yang dikenal lebih awal mengancam Wawah, “kamu jangan macam-macam. Nanti keluarga kamu kami habisi,” sebut Lia. Wawah akhirnya pasrah. Untaian-untaian kata pendeta Willy dan nyanyian rohani menyeret alam pikiran Wawah keluar dari imannya. Wawah seperti kena hipnotis.

Pendeta Willy meminta Wawah menanggalkan jilbab. Wawah hilang kesadaran diri. Perintah itu diikuti saja. Wawah dibaptis dan dimandikan di sebuah “tempat suci” dalam geraja GPIB itu. Kepala gadis itu dicemplung berkali-kali dalam sebuah kolam.

Usai pensucian, Wawah kembali kepada kesadarannya. Wawah melihat pakaiannya sudah berganti. Jilbab tak lagi terpasang. Wawah menangis dan ingin kembali ke rumahnya di Anduring. Lia, seperti tak punya beban, kembali menghibur.

Ketika malam mulai larut, Wawah lalu dibawa ke rumah Salmon Ongirwalu, seorang jemaat GPIB, pcgawai PDAM Padang, di Jalan Palembang No. 11 Gaung Teluk Bayur. Di rumah Salmon, Wawah terus berontak dan ingin pulang. Tapi seperti di gereja tadi, langkah Wawah untuk lari kembali terhalang.

Tiap hari gadis ini murung. Setiap kali menangis memikirkan nasib badan dirinya, istri Salmon, Zuriana –kelahiran Bukittinggi, selalu menghibur. Zuriana, Bendahara di Persatuan Kristen Sumatera Barat (PKSB) pula yang aktif membimbing rohani kekristenan Wawah.

Untuk menghibur diri Wawah, keluarga Ongirwalu setiap malam minggu membawa Wawah makan di restoran dan menginap di luar kota. Dalam ingatan Wawah, mereka pernah menginap di Malibou Anai dan Bukittinggi.

Hampir sebulan Wawah di rumah pasangan suami istri Salmon dan Zuriana. Suatu hari –entah sudah dirancang– di rumah itu yang tinggal hanya Salmon dan Wawah. Sebuah peristiwa kelam kembali menimpa Wawah. Gadis itu disetubuhi Salmon. Biadab!

Sementara Wardah, kakak Wawah, tak tahu di mana adiknya itu berada. Segala Tempat dicari. termasuk ke kediaman Lia di Jati. Tapi Lia tak lagi tinggal di sana. Tetangganya pun tak tahu pindah ke mana. Begitu pula ketika diketahui Wawah tinggal di Gating Tcluk Bayur. Ketika dihubungi di alamat dimaksud, Wawah tak ada di sana. Rupanya, untuk menghilangkan jejak. Wawah dibawa berpindah-pindah. Wawah pernah tinggal di Asratek dan di Tabing.

Majalah MEDIA DAKWAH no. 301 edisi Rabiul Awal 1420 H (Juli 1999), hal. 29

Majalah MEDIA DAKWAH no. 301 edisi Rabiul Awal 1420 H (Juli 1999), hal. 29

Dua bulan bersama keiuarga Salmon –masih dalam cengkeraman– Wawah kemudian disekolahkan di SMU Kalam Kudus Padang sebagai siswi baru Di sana Wawah disebutkan lulusan Tsanawiyah Negeri 4 Muaro Bungo. Sesuai ijazah yang tertera, nama Wawah tidak lagi Qairiyah Eniswan, tapi sudah diganti dengan Indah Fitria.

Hari berganti hari. Keberadaan Wawah di SMU Kalam Kudus tercium. Keluarga Wawah lalu menghubungi polisi. Tapi karcna yang disebut nama Qairiyah Eniswan tak ada, keluarga Wawah pun pasrah. Padahal, sosok Wawah pernah dilihat kenalannya di sana.

Di balik itu, diam-diam ada kerjasama terselubung. Istri Robert, Kepala SMP Kalam Kudus, mengabarkan kepada Pendeta Willy. Wawah lalu dipindahkan lebih jauh. ke SMU Kristen Magelang.

Di Padang, isu gerakan kristenisasi terhadap siswi MAN 2 Padang itu makin beragam. Konon, korban tak hanya Wawah. Masih banyak korban lain yang senasib dengan Wawah. Anaknya hilang begitu saja. Mahasiswa IAIN pun sempat berunjuk rasa ke Mapolda Sumbar minta kasus ini dituntaskan.

Sementara keluarga Wawah, belakangan mengetahui siapa aktor di balik peristiwa tragis itu. Satu diantaranya adalah pasangan Salmon Ongirwalau dan istrinya Zuriana. Tanggal 24 Agustus 1998, polisi “mengancam” Robert, Kepala SMK Kalam Kudus. Akhirnya, di mana posisi Wawah disebutkan. Robert lalu minta pihak di Magelang membawa Wawah ke Padang. Bersamaan dengan itu, Salmon dan istrinya pun diciduk pula.

Kasus ini kemudian ditangani di Polsek Teluk Bayur. Tapi keluarga Wawah sempat putus asa. Sebab, ada empat bulan kasus ini tertahan, tak tahu ujung pangkalnya. Akibatnya, keluarga Wawah curiga, mungkin ada pihak-pihak lain yang tak ingin masalah ini berlanjut. Agaknya, mereka ingin menutup kasus ini atas nama SARA.

Baru sekitar bulan Desember 1998, ketika ada pertemuan antara tokoh masyarakat dengan Kapolda Sumbar Kolonel Polisi Boedi Koestono di gedung Bagindo Azizehan, kasus Wawah diungkapkan oleh seorang dosen ATIP yang juga masih keluarga Wawah. Kapolda terkejut. Wakapolda Sumbar (saat itu) Kolonel Polisi Darsono diperintakan untuk menangani. “Besok pagi BAP-nya harus saya lihat,” kata Boedi kepada Darsono. Dan memang, keesokan harinya BAP yang ditunggu itu diterima Kapolda.

Lebih setahun perjalanan kasus Wawah. Bulan April 1999 kasus ini disidang di Pengadilan Negeri Padang. Duduk sebagai tersangka adalah pasangan suami istri Salmon dan Zuriana. Persidangan setiap hari Sabtu ini dipimpin Hakim Ketua Marzuki dan Hakim Anggota Zulkifli serta Siti Farida. Sebagai Jaksa Penuntut Umum Hartono SH. Kedua tersangka didampingi oleh Faigi Asa BE.

Setelah delapan kali persidangan yang dilakukan secara tertutup, kedua tersangka masih menghirup udara bebas. Baru dalam sidang Sabtu 12 Juni lalu, Majelis Hakim mengeluarkan penetapan untuk menahan Salmon. Ini membuat Zuriana, istri Salmon terkejut. Sidang berikut akan dilakukan 19 Juni ini.

Tampaknya, gangguan terhadap gadis-gadis muslimah seperti sebuah kerja sama yang sudah dirancang matang. Sayang, dalam hal ini yang duduk di kursi terdakwa baru Salmon dan Zuriana. Bagaimana dengan Lia dan Pendeta Willy. Itulah yang jadi tanda tanya keluarga Wawah.

“Saya tak ingin nasib Wawah akan menimpa keluarga muslim lain. Cukuplah Wawah jadi korban. Jangan ada yang emosi mendengar penuturan ini. Awasi saja anak kita baik-baik,” kata Abu Samah, guru SMU 6 Padang kepada Bijak. (Demikianlah dikutipkan dari Mingguan Bijak, edisi 14-20 Juni 1999).

Kasus Khairiyah ini 3 Juli lalu memasuki sidang ke-10 dengan tersangka hanya Salmon saja, dengan tuduhan hanya perkosaan saja. Adapun dakwaan penculikan dan pindah agama secara paksa, tidak masuk dalam agenda persidangan. Sedangkan Lia yang selama ini telah menjerumuskan Wawah, tidak diketahui lagi rimbanya. Pihak gereja GPIB juga menolak terlibat kasus Khairiyah ini. Pendeta Willy yang membaptis Wawah, entah ada dimana sekarang. Gereja GPIB membantah keberadaan pendeta Willy. Sementara para mahasiswa IAIN Imam Bonjol dan pelajar MAN-2 menggelar aksi demo di Mapolresta, menuntut agar kasus Khairiyah diusut tuntas.

Kasus Khairiyah telah membuat para ulama dan tokoh-tokoh Sumatera Barat sangat prihatin. Kasus itu mencuatkan Kristenisasi yang sudah merambah Ranah Minang. Menurut Ketua Persatuan Kristen Sumatera Barat, Yanuardi Kotto, ia konon telah mengkristen sebanyak 500 orang Minang. Para ulama mengkhawatirkan usaha Kristenisasi di Sumatera Barat tambah gencar saja. Menurut Afdhil Salim (tokoh Kerukunan Orang Minang di Jakarta): “Orang Minang yang pindah agama harus dikenakan sangsi adat. Yaitu diusir dari ranah Minang, atau setidaknya dikucilkan dari adat Minang.” (msa, dari berbagai sumber).

Sumber:

Majalah MEDIA DAKWAH no. 301 edisi Rabiul Awal 1420 H (Juli 1999), hal. 28-29.

Tags: , , ,

Leave a Reply