0
Media Dakwah 275 Dzulhijjah 1417 H (Mei 1997)
Media Dakwah 275 Dzulhijjah 1417 H (Mei 1997)

Media Dakwah 275 Dzulhijjah 1417 H (Mei 1997)

Hubungan Presiden Soekarno dengan PKI ternyata bukan hanya sekedar pelindung atau mengayomi. Dalam Ulang Tahun ke-45 PKI, Soekarno dengan terang-terangan menyatakan ia adalah saudara/famili PKI.

AWAL dan pertengahan bulan April lalu, media massa diributkan oleh rencana Seminar Nawaksara yang di sponsori oleh Menpora Hayono Isman. Nawaksara, judul pidato Soekarno di depan Sidang Umum MPRS itu disampaikan tanggal 22 Juni 1996, terdiri dari sembilan pokok isi pidato. Kesembilan pokok itu adalah Retrospeksi, Landasan Kerja, Melanjutkan Pembangunan, Hubungan Politik dan Ekonomi, Kedudukan Presiden dan Wakil Presiden dan lain-lain. Intinya pidato itu berisi pokok-pokok pandangan Soekarno mengenai kenegaraan.

Pidato 9 pokok Soekarno itu ternyata tidak memuaskan masyarakat. Terutama karena presiden pertama ini seolah-olah sengaja menutupi dan tidak mau tahu tragedi G30S PKI, yang menggegerkan itu. Protes keras dari KAMI, KAPP1, KAPI, HMI, dan organisasi-organisasi Islam lain waktu itu pun merebak cukup deras. Akhirnya MPRS meminta Soekarno memperbaiki Nawaksaranya. Dalam pidato pelengkapnya pun Soekarno, tidak mengambil sikap tegas terhadap PKI, sehingga akhirnya Jend. AH Nasution, pemimpin Sidang Umum MPRS, menyatakan tidak menerima pertanggungjawabannya dan akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada Jend. Soeharto sebagai pejabat presiden.

Majalah MEDIA DAKWAH no. 275 edisi Dzulhijjah 1417 H (Mei 1997), hal. 13

Majalah MEDIA DAKWAH no. 275 edisi Dzulhijjah 1417 H (Mei 1997), hal. 13

Mengapa Soekarno tidak terang-terangan menyalahkan PKI, dalam pidato Nawaksaranya itu? Pertanyaan ini hanya Soekarno yang tahu pasti jawabannya. Tapi paling tidak, bila kita meneliti hubungan keakrabannya dengan tokoh-tokoh PKI, gagasan Nasakom dan pembelaan Sdekamo terhadap PKI pada masa-masa 50-an dan 60-an, maka ‘Nawaksara’-nya Soekarno dapat lebih dipahami.

Dalam pidato Soekarno pada rapat raksasa Ulang tahun ke-45 PKI, presiden yang dikenal ‘suka perempuan’ ini terang-terangan mendukung langkah dan kemajuan PKI. Pidato ini berhasil dibukukan oleh Jajasan Pembaruan, Jakarta tahun 1965. Buku kecil, 16 halaman pidato Soekarno ini diberi judul, memetik ceramah Soekarno pada rapat raksasa itu: “Subur, Subur, Suburlah PKI”.

Di awal pidatonya presiden Soekarno memuji habis-habisan, tokoh nomor satu PKI, DN Aidit. Coba, simak sebagian isi pidatonya (halaman 6): “…tetapi baiklah Saudara Aidit sendiri mengatakan kepada saudara-saudara bahwa Dipa berarti benteng. Benteng atau pulau atau karang. Nusantara adalah Indonesia. Jadi Benteng Indonesia Aidit (tepnk tangan riuh). Benteng Indonesia dan Banteng Indonesia Aidit (tepuk tangan panjang).” (Catatan: asli tulisan buku itu menggunakan ejaan lama).

Tidak hanya memuji Aidit, Soekarno juga bangga menggandeng mesra tangan Aidit, di hadapan puluhan ribu massa PKI. “Saya berkata kepada mereka itu, cecunguk-cecunguk itu, tidak perlu mengintai-intai, ini lho, terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, Soekarno ada disini (tepuk tangan panjang). Terang-terangan tanpa tedeng aling-aling. Dit, sini (memanggil Bung Aidit), ayo terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, ayo kita minta dipotret bersama-sama (tepuktangan gemuruh), (Presiden bergandengan tangan dengan Bung Aidit menghampiri para juru-potret sambil melambai-lambaikan tangan kepada massa, massa menyambut dengan tepuktangan panjang)… Memang benar dulu pernah di dalam Kongres PKI yang ke-VI, saya lebih dahulu mensitir peribahasa Jawa: dudu sanak dudu kadang, yen mati aku melu kelangan (tepuktangan), (bukan famili, bukan saudara, kalau mati aku ikut kehilangan —pen). Pada waktu itu malah saya berkata: bukan saja dudu kanak, dudu kadang, tetapi saya berkata: “Yo sanak, yo kadang, yen mati aku kelangan. (ya famili, ya saudara, kalau mati aku ikut kehilangan —pen).

Tidak hanya pujian kepada PKI, Soekarno pun bangga dan mendorong PKI menjadi besar. Cermatilah kata-katanya: “Di dalam kerangka politik yang demikian itu maka sebenarnya bukanlah satu barang yang aneh, bahwa Pemerintah Republik Indonesia merangkul kepada PKI, bahwa saya sebagai Mandataris daripada MPRS merangkul kepada PKI, bahwa saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia merangkul kepada PKI (tepuk tangan panjang), sebab siapa yang bisa membantah bahwa PKI adalah unsur yang hebat di dalam penyelesaian Revolusi Indonesia ini? (tepuk tangan panjang), Tadi telah disitir oleh kawan Aidit apa sebabnya menurut pendapat saya PKI menjadi besar, PKI ndodro, ndodro itu, lihat tangan saya lho, menjalar-menjalar, menjalar, menjalar. PKI menjadi kuat, PKI menjadi sekarang beranggotakan 3 juta, pemudanya 3 juta, simpatisannya 20 juta. Apa sebabnya PKI demikian? Ialah oleh karena PKI konsekwen progresif revolusioner (tepuk tangan).”

Majalah MEDIA DAKWAH no. 275 edisi Dzulhijjah 1417 H (Mei 1997), hal. 14.

Majalah MEDIA DAKWAH no. 275 edisi Dzulhijjah 1417 H (Mei 1997), hal. 14.

Di dalam pidatonya itu Soekarno dengan terang-terangan ingin menghabisi/memberantas kelompok yang phobi terhadap PKI. “Terus terang saja, terus terang saja, di kalangan Nas (nasionalis —pen), ada yang Komunisto phobi, di kalangan Agama ada yang Komunisto phobi, di kalangan Angkatan Bersenjata dulu ada yang Komunisto Phobi. Nah, ini penyakit phobi ini hendak saya brantas saudara-saudara, hendak saya brantas.” (halaman 12-13).

Di akhir pidatonya, Soekarno sangat berharap agar PKI semakin besar, subur dan terus maju. “Memang demikian saudara-saudara. Manakala saya di dalam Kongres yang ke VII daripada PKI berkata: “PKI go ahead! Berjalanlah terus, artinya go ahead. Sekarang pun saya berkata PKI, go ahead! PKI maju, onward, onward, onward, never retreat! (tepuk tangan menggelegar). Saudara-saudara sekianlah sambutanku kepada Ulangtahun ke-45 PKI ini, dan tentu saya mendoakan agar supaya Partai Komunis Indonesia tetap subur, subur, subur, maju, maju, maju, onward, onward, onward, never retreat!”

Bila Soekarno dalam pidato-pidatonya telah terang-terangan mendukung penuh gerakan PKI, maka akankah orang yang mengaku menjadi penyarnbung lidah Soekamo (pengakuan Permadi), simpatisan, pengikut dan pendukungnya, mendukung gerakan yang melawan PKI (gerakan Islam)?. (Nuha)

Sumber:

Majalah MEDIA DAKWAH no. 275 edisi Dzulhijjah 1417 H (Mei 1997), hal. 13-14.

Tags: , ,

Leave a Reply