0
Panji No 48 Th II 17 Maret 1999 (hal. 15)

KASUS AMBON JANUARI 1999

Majalah Panji Masyarakat No. 48 Tahun II, 17 Maret 1999
Wawancara Khas
Des Alwi
ORANG KRISTEN MENGAKU MEREKA YANG MULAI

Kerusuhan yang terjadi di Ambon kini kian kompleks. Berawal dari ulah preman, kemudian berkembang menjadi perang terbuka antara Islam dan Kristen. ABRI dituntut lebih tegas bertindak dan tidak pandang bulu.

Entah sampai kapan Ambon masih harus tetap nangise. Tanda-tanda damai belum juga tampak. Lihat saja, sehari setelah tim khusus yang terdiri atas 19 perwira ABRI asal Maluku dipimpin Mayjen TNI Suaedi Marasabessy tiba di sana, Minggu lalu (7 Maret), bom kembali mengguncang. Warga kota Ambon pun dibuat panik. Tampaknya para perusuh tak gentar dengan datangnya para perwira yang dikirim ke sana itu. Atau, mungkin memang para perusuh sengaja ingin menguji kemampuan ABRI.

Menurut Des Alwi, pengiriman 19 perwira ABRI asal Maluku ke Ambon untuk menghentikan pertikaian, secara psikologis sudah merupakan satu kesalahan. Anggota tim pencari fakta (TPF) kasus Ambon ini mempertanyakan kenapa tidak dikirim pasukan yang datangnya dari Bali atau daerah mana saja yang netral. “Kan ada tentara atau polisi yang Kristen. Soalnya akan jadi lain. Mestinya yang memegang teguh janjinya. Jangan pandang bulu. Susah kalau aparat yang asli sana. Harusnya aparat dari luar (Ambon),” ucapnya.

Sejak ditunjuk Presiden Habibie untuk menjadi anggota TPF kasus Ambon, Om Des–demikian panggilan akrab pria kelahiran Banda 71 tahun lalu ini—sering terbang ke sana bersama anggota tim lain seperti Mayjen (Purn.) Yos Mustika dan Balkan Kaplale. Mereka berkeliling ke tempat-tempat yang dilanda kerusuhan dan melakukan dialog dengan berbagai tokoh Islam dan Kristen, para ketua adat, dan lain-lain. “Mereka sebenarnya sudah mau damai. Tapi entah kenapa tiba-tiba ada saja yang memulai lagi. Persoalannya memang sudah kompleks. Kalau awalnya hanya ulah preman, sekarang sudah menjadi perang terbuka antara Islam dan Kristen,” ujarnya.

Senin lalu (8 Maret), di kantornya di Jl. Narada No. 36, Tanah Tinggi Jakarta, tokoh yang selama ini dikenal sebagai pembuat film-film dokumenter itu menerima Redaktur Khusus Panji Laode Ida untuk wawancara khusus. Sebelumnya, ia juga sempat memutarkan rekaman video hasil kunjungannya beberapa kali ke Ambon sambil sesekali menjelaskan apa yang sudah direkamnya itu. Berikut petikannya.

Bagaimana hasil temuan TPF mengenai kerusuhan di Ambon yang hingga kini masih bergejolak?

Peristiwa Ambon memang mencekam dan bergolak. Terus terang saya juga agak bingung. Saya diminta Presiden Habibie untuk menjadi salah seorang anggota tim pencari fakta. Saya menerima tugas itu. Kerja tim ini sekarang sudah selesai. Kita sudah memberi laporan dan merekomendasikan untuk minta tambah pasukan dan helikopter ke sana.

Sebetulnya apa sih yang menjadi penyebab? Apa betul hanya karena persoalan etnis?

Memang, pada awalnya soal etnis. Orang Kristen di kota Ambon yang tadinya 70% sekarang tinggal 50%. Sementara penduduk Islamnya bertambah dengan masuknya unsur Bugis, Buton, dan Makasar (BBM). Orang Kristen protes, kok banyak unsur Bugis yang masuk. Orang Bugis juga jadi merasa khawatir. Mereka pun sempat protes kenapa kalau orang Cina atau orang Toraja yang datang dan buka toko di sana, tidak diprotes. Tapi ini terus berjalan secara diam-diam. Pemerintah setempat tidak berbuat apa-apa.

Jadi konflik etnis itu pemicunya sudah lama terjadi?

Ya. Persoalan etnis itu memang sudah menyejarah sejak lama. Nah, kenapa orang-orang, baik yang Kristen maupun yang Islam, datang ke sana, itu karena Ambon merupakan pusat perdagangan sejak zaman VOC. Jadi begitulah. Persoalan terus terpendam lama dan tidak ada dialog antarmereka. Para pendatang itu banyak yang jadi tukang becak, buruh pelabuhan, tukang parkir, pelayan di restoran, dan lain-lain. Sementara penduduk asli Ambon yang mayoritas Kristen tidak mau seperti itu. Mereka hanya jadi pegawai negeri atau pokoknya kalangan white collar job-lah. Dari situ muncul soal kesenjangan sosial. Apalagi kondisi perekonomian negara sekarang sedang krisis.

Apakah hanya faktor kesenjangan sosial dan situasi krismon saja yang memicu kerusuhan? Tapi kok sebegitu parahnya kerusuhan di sana? Apa ada faktor lain?

Memang, selain faktor dendam sejarah yang tidak segera diselesaikan tadi, ada faktor lain. Menurut saya, meletusnya kerusuhan di sana juga ikut dipicu oleh munculnya preman-preman dari Jakarta yang tertangkap dalam beberapa kerusuhan lalu. Lihat saja kasus Ketapang, kan banyak preman Ambon yang setelah tertangkap kemudian dipulangkan ke kampung mereka di sana. Selama di Jakarta, nasib mereka beragam. Kalau sukses bisa jadi orang seperti Christ Pattikawa. Tapi kalau gagal, ya jadi preman. Kan banyak orang Ambon yang jadi bodigar atau semacamnya. Pokoknya hidup mereka dalam dunia kekerasan, termasuk ikut dalam berbagai kerusuhan.

Nah, sebelum terjadi kerusuhan di Ambon, menurut data yang saya dapatkan, ada sekitar 80-100 orang Ambon, termasuk preman, yang pulang kampung untuk perayaan Natal. Setelah Natal, mereka tidak bisa datang lagi ke Jakarta karena selain krismon, banyak di antara mereka yang sedang dicari aparat akibat terlibat sejumlah kerusuhan. Namun di sana mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah terisolasi akibat banyaknya orang luar yang tinggal di sana. Mau cari makan susah. Mau kerja di kebun atau semacamnya, mereka gengsi karena pengaruh kehidupan di Jakarta. Sementara ketegangan antarsuku dan agama sudah mulai tegang.

Jadi Anda melihat para preman itulah yang memicu kerusuhan di Ambon yang memang sebelumnya sudah panas?

Tim melihatnya begitu. Mereka merekayasa bagaimana cara mencari uang dengan memunculkan kerusuhan seperti yang mereka lakukan di Jakarta. Mereka juga mendatangkan sekitar 800 orang Saparua yang hobinya memang ribut dan berkelahi. Mereka memanfaatkan sentimen antipendatang. Kalangan Cina mereka lindungi dengan imbalan uang. Ada pihak yang mencetuskan, lalu berkembang. Hari pertama, kerusuhan hasil rekayasa. Ada Yopie yang Kristen berkelahi dengan Hasan yang Islam. Mereka mencari waktu Idul Fitri setelah zuhur. Kita tahu, saat itu orang-orang Islam kan sedang lelah. Nah saat itulah terjadi perkelahian.

Mereka juga membakar-bakar ban di depan masjid dan gereja sehingga orang mengira ada masjid dan gereja dibakar. Akhirnya masyarakat yang sudah “panas” sejak lama itu terkena provokasi. Para preman kemudian menyapu kedai dan toko para pedagang menengah. Terjadi penjarahan. Preman-preman itu tahu orang-orang Bugis, Buton, dan Makasar (BBM) sedang panen hasil penjualan pada saat Lebaran. Saat itu toko-toko milik pendatang hancur. Juga milik orang Jawa, Minangkabau, termasuk orang Banda. Semua dijarah lalu dibakar.

Pada hari kedua, pagi-pagi sekali terjadi peristiwa yang lebih hebat lagi. Islam mulai terbangun, marah. Para pelaku kerusuhan itu lalu sengaja bikin panik. Caranya, mereka membakar-bakar ban di depan berbagai masjid dan gereja. Rekayasanya hebat betul. Tapi mereka belum membunuh, baru menjarah saja. Mereka baru membunuh setelah melihat orang Bugis berlebaran. Ditunggu di terminal bus, lalu dibabat. Yang masih hidup dan menyelamatkan diri di Hotel Asia, hotelnya dibakar. Juga, orang-orang Bugis yang sembunyi di bioskop Amboina, bioskopnya juga dibakar beserta orang-orangnya.

Bisa Anda lukiskan konfigurasi masyarakat Ambon saat-saat itu? Bagaimana reaksi mereka?

Di Ambon itu ada beberapa pengelompokan penduduk. Ibarat ring, di tengah-tengah adalah pedagang Islam, termasuk juga orang-orang keturunan Cina. Tapi di situ pun ada perkampungan orang Islam dan Kristen. Selanjutnya orang Ambon Kristen berlokasi di gunung dan daerah sekitarnya. Susahnya, di tempat ini, terutama di pesisir, pun merupakan tempat orang-orang Islam.

Nah, setelah mendengar ada masjid dibakar, ribuan orang Islam berusaha masuk kota Ambon, lalu dicegat di Paso. Sepanjang perjalanan sekitar 20 km, di tengah jalan, apa saja yang berbau Kristen dihabisi, termasuk gereja. Orang-orang Kristen ini ada juga yang kena di tempat terakhir yang penduduknya muslim. Jadi bantuan dari orang-orang Kristen di pulau-pulau lain seperti dari Haruku dan Saparua tidak bisa masuk. Sebab, di pesisir itu dikuasai oleh kalangan Islam. Di Maluku penduduknya mayoritas Ambon, sedangkan di Ambon penduduknya mayoritas Kristen.

Itu kan di Ambon. Bagaimana dengan masyarakat di pulau-pulau lain?

Penduduk pulau lain yang melihat toko-toko di Ambon sudah mati dan rumah-rumah pemiliknya dirusak, terutama penduduk Islam yang melihat keluarganya dihancurkan, lalu balas dendam. Sementara preman-preman sudah tidak diketahui lagi ke mana perginya. Mereka sudah menghilang.

Bagaimana dengan dugaan bahwa RMS juga ikut bermain dalam hal ini?

Menurut saya siapa yang bilang ini soal RMS, itu bodoh. Pentolan-pentolan RMS itu kan sudah tua-tua. Mana mungkin mereka bisa mengurus republik lagi. Tidak gampang kan.

Tadi Anda katakan para preman itu sewaktu di Jakarta sudah tertangkap, tetapi kemudian dilepaskan dan dipulangkan. Kenapa begitu?

Saya juga tidak tahu kenapa polisi melepas mereka. Alasannya sementara ini hanya karena praduga-praduga. Seharusnya, kalau sudah tertangkap, ya ditahan terus dong, tidak dilepas begitu saja. Kalau zaman normal bisa saja. Tapi ini kan zamannya sudah bakar-bakaran. Saya juga kecewa. Kami sudah tanya mereka soal pelepasan itu. Alasannya ya itu tadi, polisi menggunakan sistem praduga tak bersalah di tempat yang terjadi pembunuhan besar-besaran, perkelahian, pembunuhan antarsuku dan antaragama. Menurut saya ini salah. Polisi harus tetap bertindak tegas. Apalagi sekarang sudah ada perintah, siapa yang menyerang polisi berhak menembak kaki.

Tapi tampaknya perintah tembak di tempat itu tidak efektif?

Ya. Buktinya baru-baru ini ada pembantaian orang Islam lagi. Begitu lewat gereja yang lokasinya tidak jauh dari kantor gubernur, disuruh turun lalu dibantai.

Apakah ada kekuatan lain yang memang mempengaruhi polisi untuk melepas para preman itu?

Saya tidak tahu. Itu bukan tugas tim. Tapi yang jelas, saya tahu ada preman yang bernama Pilo. Dia sudah bunuh orang, tetapi karena dianggap tidak ada bukti-bukti, dilepas lagi. Saya punya daftar nama-nama preman itu.

Kapolri pernah bilang bahwa kerusuhan di Ambon ada aktor intelektualnya yang berasal dari Jakarta. Siapa mereka?

Entahlah. Tapi menurut saya ada indikasi mereka adalah para ketua gereja itu. Sebab, saya melihat dalam beberapa kali rapat perdamaian yang dilakukan tim, ketua sinodenya tidak pernah muncul. Kini di kota sulit bagi orang Kristen untuk keluar, karena di luar kota orang Islam berkuasa. Orang-orang Kristen tidak bisa turun untuk belanja. Orang-orang Islam di kantong-kantong Islam melakukan razia, kalau ada orang Kristen bisa bahaya. Beberapa hari lalu ada sopir truk lewat depan Masjid Al-Fatah, langsung dibantai. Jadi memang kalau mau membuat perdamaian harus dari bawah (grass root). Artinya kita langsung bicara dengan para ketua adat, tokoh-tokoh agama (pendeta, imam masjid), tokoh-tokoh pemuda, dan lain-lain. Dari pertemuan itu kita menerima berbagai keluhan.

Sementara ini keluhan apa saja yang ditemukan TPF? Bisa Anda gambarkan suasana rapat perdamaian itu?

Dalam rapat-rapat dengan berbagai kalangan bawah di sana yang terlibat konflik, tim bekerja sama dengan enam orang dari gubernur dan dua dari kelompok Islam dan Kristen untuk masuk ke kampung-kampung. Para ketua adat, kepala desa, juga ikut. Begitu kami selesai rapat, sudah setuju antara Islam dan Kristen untuk berdamai. Pendeta kami bawa ke masjid, ulama kami bawa ke gereja supaya ada pendekatan. Tapi suatu kali terjadi, setelah damai tercapai, suasana panas terjadi lagi di tingkat bawah. Jadi kacau lagi, bahkan sudah ada yang buang bom di kiri-kanan. Ada lagi gereja yang tiba-tiba mulai, ada orang Islam yang menghantam orang Kristen dan semacamnya.

Menurut Anda yang agak sulit diajak berdamai itu kelompok mana?

Kesan saya kelompok Kristen. Mungkin mereka takut. Seperti ada orang Banda yang lapor kepada saya bahwa mereka terjepit. Di setiap gereja lonceng berbunyi sebagai isyarat tertentu seperti akan diserang, sudah masuk ke daerah mereka, ada peristiwa tetapi bukan di daerah mereka, atau ada penyerbuan. Jadi kalau ada isyarat penyerangan, orang Islam keluar sambil meneriakkan Allahu Akbar dan mencari perlindungan ke asrama aparat tentara. Mendengar ada teriakan Allahu Akbar, orang Kristen yang belum siap lalu mundur. Mereka menduga teriakan Allahu Akbar itu sebagai isyarat penyerangan.

Dari hasil beberapa pertemuan itu, kesimpulan tim bagaimana? Kelompok mana sih yang paling bersalah?

Kami ngobrol dengan pendeta dan ulama. Menurut orang Islam, orang Kristen ada beberapa yang terlibat. Sementara orang Kristen tidak menuduh siapa-siapa. Tapi mereka bilang, mereka selalu dituduh RMS, padahal bukan RMS. Jadi mereka tidak bilang orang Islam yang memulai karena memang mereka yang memulai.

Jadi orang-orang Kristen itu mengakui?

Ya. Mereka juga mau berdamai. Tapi para provokator itu yang tidak mau. Kelompok-kelompok Kristen di Ambon banyak yang mengirim faksimile ke kedutaan-kedutaan negara Barat, minta bantuan. Tapi kedutaan belum memberi reaksi karena mereka tahu bahwa ini perang agama.

Soal pengamanan yang selama ini dilakukan aparat, bagaimana Anda menilainya?

Payah. Menurut saya ini karena ABRI terlalu banyak main politik di pusat.

Kasus penembakan di Masjid Al Huda yang diduga dilakukan oleh aparat menjadikan orang Islam tidak lagi merasa aman bersama aparat keamanan. Menurut Anda?

Ya memang. Apalagi jumlah tentara kurang. Mereka memang sudah kirim lagi pasukan Kostrad, tetapi banyak orang Bugisnya. Secara psikologis ini sudah salah. Kenapa tidak dikirim pasukan yang datangnya dari Bali atau daerah mana saja yang netral

Kenapa? Apa karena kasus Masjid Al Huda itu?

Ya, kan ada tentara atau polisi yang Kristen. Juga yang Islam. Soalnya kan jadi lain. Mestinya yang memegang teguh janjinya. Jangan pandang bulu. Susah kalau polisi dari sana. Harusnya dari luar.

Jadi dalam tubuh aparat sendiri sudah ada perpecahan?

Ya, aparat juga terpecah.

Kalau begitu tidak ada garis komando yang jelas dong?

Kalau ABRI sih masih lumayan. Yang repot polisi itu.

Menurut Anda, untuk mendamaikan yang bertikai, apa yang harus dilakukan?

Militer harus unjuk kekuatan (show of force). Mereka harus banyak jumlahnya. Selama ini kaum perusuh maunya keadaan tetap begitu terus, rawan dan kacau. Sebab, kalau damai, mereka bisa ditangkap. Tapi sekarang mereka sudah ketakutan, tidak bisa berbuat apa-apa. Para preman itu tidak menyangka kalau akan terjadi peristiwa seperti ini. Sekarang sudah perang terbuka antara Kristen dan Islam. Awalnya kan para preman itu hanya mau menjarah saja untuk cari uang.

Perlukah diberlakukan kebijakan darurat sipil?

Tidak. Yang penting unjuk kekuatan. Bikin bersih semua senjata yang ada. Itu lebih bagus daripada darurat sipil.

Belakangan ada usulan agar beberapa tokoh seperti Megawati, Gus Dur atau yang lain datang ke sana untuk ikut menyelesaikan persoalan. Apakah ini akan efektif?

Kalau sudah damai mungkin bisa efektif. Tapi kalau masih panas, saya kira sulit. Misalnya Megawati ke sana, tetapi tidak mencapai apa-apa, kan bisa malu dia. Bisa saja orang-orang itu datang ke sana. Tapi ajak juga jenderal-jenderal atau pendeta-pendeta Maluku.

Apakah Anda melihat bahwa persoalan Ambon pada tingkat lokal punya hubungan erat dengan persoalan politik tingkat nasional atau bahkan internasional? Sebab, ada juga dugaan bahwa peristiwa ini sengaja dibiarkan untuk menjatuhkan pemerintah

Saya tidak melihat sejauh itu. Memang ada juga anggapan seperti itu. Misalnya soal pengamanan. Ketidaktegasan aparat jelas menimbulkan anggapan bahwa itu disengaja. Kapolda baru ditempatkan di sana. Danremnya beberapa kali membuat kesalahan macam-macam. Mahasiswa berdemonstrasi dibabat habis-habisan.

Bagaimana perkiraan Anda ujung dari persoalan ini. Apakah nanti akan tercipta masyarakat yang secara homogen Kristen yang akan berkembang, sementara kalangan Islamnya eksodus seperti sudah terjadi sekarang?

Tidak. Saya merasa bahwa mereka yang eksodus itu harus kembali. Mereka kan juga penduduk asli sana. Dan mereka punya sentimen emosional yang begitu kuat.

Anda katakan perdamaian di Ambon akan muncul jika dikembalikan kepada tokoh-tokoh bawah di sana. Apakah mereka bisa akur dengan cara itu?

Memang tidak akur. Tapi di situlah kita tahu bahwa sebetulnya antarmereka sudah mau berdamai. Mereka sudah lapar dan letih konflik. Semua tidak bisa berbuat apa-apa dalam suasana mencekam.

Tapi kenapa konflik masih terus muncul hingga sekarang?

Persoalannya memang kompleks. Tapi suatu saat pasti akan teratasi. Makanya kalau kita kembalikan ke soal kesenjangan sosial seperti kita bicarakan di awal, orang-orang Kristen Ambon atau siapa pun harus dimotivasi agar mereka tidak hanya mau menjadi pegawai negeri saja. Saya setuju kalau mereka juga lebih dididik keterampilan kejuruan. Sementara unsur pendatangnya juga tetap saja tinggal di sana. Soal seperti ini juga kan muncul misalnya di Kupang dan Timtim.

Nasrullah Alief dan Elly Burhaini Faizal

Leave a Reply