Mengungkap Yang Perlu Diungkap
Konspirasi Neo Orba: Mega, Hendro & NII Al-Zaytun 01
PENDAHULUAN
Oleh Umar Abduh
BUKU yang hadir di tangan para pembaca sekalian ini disusun menjadi 3 Bab, Bab Pendahuluan menjelaskan latar belakang, tujuan dan methode penulisan. Bab I menjelaskan sikap kritis terhadap fenomena kontroversi kehadiran kepala BIN Hendro priyono di Ma’had Al-Zaytun 14-15 Mei 2003. Fenomena kontroversi kehadiran kepala BIN tersebut diabadikan dalam bentuk VCD, selanjutnya dijual untuk umum oleh komunitas Ma’had Al-Zaytun. Selebihnya isi buku ini merupakan analisis dampak hukum, politik serta duduk masalah yang perlu diungkap dan dikaji untuk kepentingan masyarakat banyak.
Bab II menjelaskan eksistensi tentang apa dan bagaimana Ma’had Al-Zaytun, tentang AS Panji Gumilang juga tentang gerakan organisasi NII-NKA. Bab III berisi kritik membangun dan gugatan konstruktif terhadap kinerja dan mekanisme fungsi peran BIN di bawah Hendropriyono berkenaan dengan hubungannya dengan Ma’had Al-Zaytun, AS Panji Gumilang maupun gerakan organisasi NII-NKA yang dipimpin AS Panji Gumilang. Bab Kesimpulan dan penutup berisi himbauan bagi masyarakat, BIN, Hendro dan pemerintah tentang pentingnya kekuatan moral dan control masyarakat terhadap system dan kinerja penyelenggaraan Negara dan pemerintahan.
Ma’had Al-Zaytun sejak awal diselimuti misteri, dikenal sebagai ma’had yang kaya dengan kontroversi. Kini untuk kesekian kalinya Ma’had tersebut mengeluarkan debut kontroversi yang semakin membuat banyak orang terperangah. Gumpalan misteri Ma’had Al-Zaytun, sebagian telah tersingkap. Salah satu misteri itu, tersingkap setahun yang lalu, tepatnya tanggal 14-15 Mei 2003 di mana kepala BIN Hendropriyono berada di Ma’had tersebut disertai beberapa deputi BIN.
Jika terungkapnya manipulasi data dan rekayasa pembengkakan suara pilpres di Ma’had Al-Zaytun 5 Juli lalu sudah dianggap sebagai kontroversi, maka Ma’had Al-Zaytun sudah memproduksi dan menjalankan kontroversi sejak awal pembangunan ma’had tersebut. Praktek manipulasi data pengelola Ma’had Al-Zaytun terhadap system – aturan kependudukan dilakukan bekerjasama dengan aparat Pemda Indramayu cq Kepala Desa dan Camat, di mana para warga Al-Zaytun tersebut tinggal. Menerbitkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) bagi warga Zaytun yang berperan sebagai pekerja, pembeli tanah masyarakat yang selanjutnya menjadi pewakif maupun mereka yang kemudian berperan sebagai eksponen Ma’had tersebut.
Keahlian AS Panji Gumilang selaku pimpinan dan penanggung jawab Ma’had maupun organisasi NII-NKA melakukan manipulasi data kependudukan atau pengerahan massa sudah berulangkali terbukti. Sejak awal perayaan 1 Muharram diselenggarakan Ma’had tersebut tahun 2000 hingga 2004 yang lalu, komunitas Ma’had Al-Zaytun mampu menghimpun kedatangan anggota gerombolan NII-NKA tersebut sebanyak 120.000 – an. Demikian halnya praktek manipulasi data dalam momentum pilkades desa Mekar Jaya tahun 2002. Komunitas Al-Zaytun sukses menggalang manipulasi dan pemalsuan data kependudukan yang bekerjasama dengan aparat pemda Indramayu cq Kelurahan dan Kecamatan untuk membengkakkan suara pemilih calon kades Api Karpi. Keahlian AS Panji Gumilang memanipulasi data dan pemenangan suara memang sudah banyak terbukti. Sukses tersebut karena dukungan moral dam mental komunitas NII yang terbiasa dan ahli dalam hal palsu memalsu – menduplikasi KTP, Surat Tanah, Akta Jual Beli Tanah dan sebagainya.
Menurut kesaksian Ustadz Rani Yunsih, AS Panji Gumilang pernah memenangkan suara UMNO di Sabah saat menggusur partai Datuk Pairin Kittingan pada dekade 90 an. Layaknya pesulap AS Panji Gumilang, Ma’had Al-Zaytun dan gerombolan NII-NKA memang merupakan sumber kontroversi.
Namun keahlian AS panji Gumilang, Ma’had Al-Zaytun dan organisasi gerombolan NII-NKA dalam merakit manuver maupun kontroversi itu nampaknya terantuk batu. Manuver politik dan kontroversi AS panji Gumilang yang menggunakan Ma’had Al-Zaytun beserta organisasi gerombolan NII-NKA telah memakan korban orang besar, yaitu capres dari partai Golkar, jendral Purn Wiranto. Orang pun lantas teringat dengan track record AS Panji Gumilang dan Ma’had Al-Zaytun, saat mereka menyambut kehadiran kepala BIN Hendro tanggal 14-15 Mei 2003 lalu. Peristiwa langka itu ternyata berhasil dikemas AS Panji Gumilang bersama komunitas Ma’had Al-Zaytun sebagai alat justivikasi terhadap kontroversi yang telah digelar selama ini. Kesan yang berhasil dibangun AS Panji Gumilang terhadap kepala BIN Hendropriyono sebagai pemilik dan berada di belakang eksistensi Ma’had Al-Zaytun akhirnya tersebar luas.
AS Panji Gumilang berhasil menarik keuntungan, baik moril maupun materiil dari kehadiran dan sikap kepala BIN Hendropriyono yang ikhlash, lillahi Ta’ala memposisikan diri menjadi pelindung atau backing Al-Zaytun. Kemungkinan, Hendro pun puas karena berhasil memanfaatkan kontroversi Al-Zaytun dan panji Gumilang and his Gang menjadi alat dan bahan pembusukan dalam perang politik kepentingan, seperti yang terjadi saat pemilu legislative maupun pemilu presiden 5 juli yang lalu. Akibat langsung maupun tak langsung dari sikap kepala BIN Hendro yang ikhlash dan kesatria membacking Al-Zaytun tersebut akhirnya memunculkan ketidak jelasan sikap Panglima TNI, KSAD, Kapolri dan pemerintahan Megawati terhadap Ma’had tersebut. Karena Panglima TNI, KSAD, Kapolri dan kabinet Mega-Hamzah hingga kini tidak berani berbeda sikap dan berbeda pendapat dengan kepala BIN Hendropriyono, akibatnya Dansat Transportasi dan beberapa sopir Mabes TNI yang menjadi korban. Menteri Agama juga menjadi ewuh pakewuh untuk mengumumkan hasil penelitian tim INSEP yang bekerja sama dengan Badan Litbang Agama Dan Diklat Keagamaan Departemen Agama R.I yang beranggotakan enam orang sudah menyelesaikan tugasnya sejak akhir Februari 2004 lalu tentang Ma’had Al-Zaytun.
Kesan dan kesimpulan masyarakat awam pun terlanjur mengarah kepada tuduhan atau sangkaan bahwa BIN dan Hendro sebagai pihak yang mengatur scenario dan segala sesuatu yang terjadi serta terkait dengan Ma’had tersebut. Masyarakat tidak bisa disalahkan, bila mereka menuding BIN atau Hendro sebagai pihak yang harus dan paling bertanggungjawab, apalagi hingga kini baik Hendro maupun BIN masih bersikap bungkam, diam seribu bahasa. Fenomena kontroversi Al-Zaytun dalam pemilu legislative April dan pemilu presiden 5 Juli kemarin jika dibiarkan berlalu tanpa ada sikap kritis dan tindakan konkret yang berkelanjutan dari KPU, Panwaslu, aparat hukum dan keamanan, hal ini merupakan preseden buruk sekali gus merupakan pelecehan terhadap hukum, undang-undang, negara dan pemerintah. Termasuk pelecehan terhadap citra pondok pesantren khususnya.
Akibat langsung maupun tak langsung dari senyawa kontroversi antara AS Panji Gumilang dan kepala BIN Hendropriyono banyak masyarakat yang menjadi korban dan semakin tertipu. Karena kesan Hendropriyono selaku kepala BIN sebagai pemilik dan backing Ma’had Al-Zaytun tidak saja berhasil mengecoh komunitas NII-NKA dan para keluarga wali santri, tetapi masyarakat lain pun, termasuk para petinggi Golkar dan TNI akhirnya ikut yakin dan percaya bahwa Al-Zaytun dan AS Panji Gumilang memang tidak bermasalah. Padahal kesan tersebut dibangun AS Panji Gumilang dan kepala BIN Hendropriyono hanya berdasarkan kecohan saat keduanya menyampaikan retorika yang sebenarnya mungkin hanya basa basi belaka.
Pernyataan dan sambutan Abu Toto nama lain AS Panji Gumilang, selaku petinggi Ma’had sekaligus dikenal sebagai Presiden gerakan organisasi gerombolan NII-NKA periode 1996 hingga sekarang, saat menyambut kehadiran Hendropriyono, akhirnya menyingkap tabir dan gumpalan misteri sekaligus kontroversi, pernyataan AS Panji tersebut sebagai berikut:
“Selamat datang. Ahlan wa sahlan wa Marhaban. Indinikum Ila al Ma’had. Ma’had al Sya’rif, Ma’had Al-Zaytun ”. … Selamat datang, kunjungannya ke Ma’had Al-Zaytun ini. … Ini sebenarnya bukan satu kunjungan. Tapi pemiliknya datang kembali; yang sudah agak lama. Kami, kalau sahabat tidak ketemu sepekan, …itu rasanya, Subhanallah … Tapi ini betapa relanya … 4 (empat) tahun, 3 (tiga) bulan, kurang 3 (tiga) hari. Itu sahabat baru berkunjung kembali kembali ke Ma’hadnya.
Inilah sambutan dan puji sanjung sekaligus pengakuan dari orang yang paling bertanggungjawab di Ma’had Al-Zaytun pada 14 Mei 2003 tentang Hendropriyono, di mana pada Februari 1999, sejak Hendro menjabat sebagai Menakertrans namun sudah memiliki hubungan sekaligus mendukung dan mem-back up keberadaan Ma’had Al-Zaytun dan Abdus Salam Panji Gumilang.
Misteri dan kontroversi Ma’had Al-Zaytun semakin tersingkap setelah Hendro beserta rombongan hadir ke Ma’had tersebut sebagai kepala BIN, dalam sambutan pertama saat kedatangannya langsung menyatakan pembelaan dan menunjukkan kepedulian yang serius:
Empat tahun saya tidak mendampingi beliau. Empat tahun lebih. Tetapi karena hubungan batin, saya ikut sekalian bersama Saudara-Saudara untuk menghadapi badai, badai fitnah terhadap Al-Zaytun. Alhamdullilah. Alhamdulillah Robbil ’alamin. Kita sudah sepakat memuji kehadirat Nya. Alhamdulillah …
Akhirnya Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara sekalian mau tidak mau semua orang mengakui; akan kebulatan tekad, kebenaran, kekuatan hati dari Syaikh Sahabat Al Mukarrom, Syaikhul Ma’had Panji Gumilang, beserta keluarga besarnya. Siapa? Yang akan bicara lagi, bahwasanya Syaikh dengan segenap ummatnya di sini, adalah bukan seorang nasionalis? Siapa yang bilang … bukan mempunyai rasa patriotisme dan kebangsaan yang tebal? Saya sampaikan ini kepada Ibu Megawati, dan saya katakan bahwa Ibu diundang oleh keluarga besar Al-Zaytun, untuk meletakkan fondamen pertama. Batu pertama. Corner-stone. Untuk suatu gedung, yang sangat luar-biasa dan megah. Untuk menghormati The Founder of the Nation, yaitu: Dr. Ir. Soekarno … dia sangat terharu, dan masih tidak percaya: Apa iya? Saya bilang: orangnya itu baru datang tadi malam, menemui saya, dan meminta Ibu: “Ini suratnya!”. Dia baca, Alhamdulillah, Insya Allah, katanya: “Kapan?”. Saya bilang, “Maksimal tanggal 14. Karena tanggal 14 itu, seluruh siswa, santri akan check-out untuk liburan”. “Bagaimana kalau pulang libur?”. Saya bilang, “Nggak bisa!” “Terlalu lama”. “Jadi, Coba diatur dengan Sekretaris Presiden dan Sekretaris Negara”. Setelah atur sana, atur sini, disepakati: ini hari. Tiba-tiba ada yang kelupaan, yang sudah direncanakan sejak lama, acara di Kebumen, dan kebingungan dia itu. Lalu saya bilang begini: “Yang penting Ibu janji saja, untuk membuka sekolah ini, eh, maaf, Gedung ini; Gedung Pembelajaran ini”. “Kira-kira berapa lama?”. “Wah, itu saya belum tanya”. Mungkin bisa satu hari, mungkin bisa satu tahun. Bisa dua tahun, saya tidak bisa menduga Syaikhul Ma’had ini, orang ajaib. Banyak hal yang tidak disangka-sangka bisa kejadian. Jadi saya tidak bisa menduga. Saya sampaikan kalau Ibu .. tidak bisa, silahkan kirim wakilnya, tapi mewakili Ibu Presiden. Lalu beliau melihat ke langit-langit lama .. Lha Mbok sampeyan sendiri!! Ah, Alhamdulillah, memang rejeki saya!!! Ya heh heh he! Berarti rejeki saya.
Saya telpon Menteri Agama. Saya mewakili Presiden, untuk berkunjung … atau kalau tadi Syaikhul Ma’had bilang bukan berkunjung, tapi kembali … Zaytun. Menteri Agama menjawab: Dalam rangka apa ini? Saya bilang: dalam rangka … Lalu saya bilang: “Antum mau ikut nggak?”. Menteri Agama menjawab “Lho kok mendadak begini?”. Lalu saya bilang, “Ada titip apa?”. “Titip salam..”.
Jadi, salam juga saya sampaikan karena ini amanah dari Menteri Agama Republik Indonesia, dan beliau juga menyampaikan penghargaan yang tinggi. Beliau bilang pada saya, “Pak Hendro apa yang disampaikan Pak Hendro, pertama kali dulu, Sidang Kabinet, saya khusus melaporkan soal Al-Zaytun?”. “Benar, karena Departemen Agama sudah mengirimkan Tim. Untuk melihat: Apa, Siapa, Bagaimana, Al-Zaytun?”. Ternyata badai yang saya katakan itu, yang mengatakan bahwa di sekolah yang kita banggakan ini: diajari aliran sesat, dia sendiri yang sesat!! Dan, berbagai macam Tim dikirim. Tim apa saja saya katakan. Sudah banyak dikirim! Dan memang, yang benar itu benar, yang salah itu salah.
Jadi pada saat saya di Yogya. Saya mendapat laporan dari ajudan, bahwa Syaikh akan bicara, tapi bicaranya pake handphone, tidak bisa, karena saya berada di kampung. Jadi mohon-maaf, saya tidak sampai, karena saya di Imogiri, bukan di Yogya itu. Di Imogiri. Di sana saya berjumpa dengan seorang Kyai, dan saya bicara, bicara soal Al-Zaytun. Pertanyaan-pertanyaannya, adalah pertanyaan-pertanyaan yang dia dapatkan dari membaca buku. BUKU-BUKU IBLIS!! Bukunya orang yang iri hati. Bukunya orang yang iri hati!! Mudah-mudahan dia segera bertobat, setelah tahu itu apa al Zaytun. Saya sampaikan. Kita … Farodlo taubata wa harroma … isroro … Kita harus bertobat, karena kesalahan dalam menilai apa itu Al-Zaytun.
Saya pura-pura katakan kita, karena sebenarnya saya tidak termasuk di situ. [tepuk-tangan]. Lantas mulai tanya macem-macem. Dia tanya siapa itu Panji Gumilang, siapa itu… Saya bilang yang jelas dia itu sahabat saya, dan dia itu orang yang paling benar di dalam permasalahan ini.
Dan pagi-pagi ketika saya diwawancara oleh beberapa wartawan. Pagi-pagi, maksudnya sebelum Presiden Republik Indonesia saat itu Habibie, datang, berkunjung kemari meresmikannya; saya diwawancarai oleh wartawan. Dan mati-matian semua pertanyaan itu saya jawab. Karena pertanyaan itu memojokkan.
Tidak ada satu pun jawaban saya yang dimuat. MEMANG IBLIS!!! Memang sudah di-set orang-orang yang tanya itu, untuk memang memojokkan, tapi saya ya, waspada, karena saya dulu sudah direncanakan oleh Syaikh untuk menjadi Kepala Intel, waktu itu, He he he …
Tapi, banyak wartawan lain, yang membela. Sehingga keluarlah di satu majalah, mengenai jawaban, meskipun jawaban saya dikorting, tetapi cukup. Cukup. Saya puas. Karena ada suatu keyakinan akan kebenaran yang harus dibela.
Saya sampaikan kepada sahabat karib saya: “I am your friend in need, so I have to be a friend indeed”. Seorang sahabat sejati harus pada saat-saat dibutuhkan. Dan bukan pada waktu senang, sudah jadi kayak begini baru datang. Nah … saya tetap membela!! Dan bukan saya sendirian. Banyak juga. Saya akan perkenalkan satu per satu. Karena waktunya sudah mepet, kita mau bermaghrib. Ee .. saya juga bawa dalam rombongan ini, wartawan yang pro dan yang betul-betul tahu akan kebenaran yang saya sampaikan tadi. Namanya Imam Ashori. Ini juga sahabat karib saya, jadi saya katakan yang benar, dan dia juga percaya. Karena saya juga sudah menyelidikinya, dan sebetulnya sudah tidak ada apa-apa, setelah 4 tahun lebih, diterpa oleh badai. Toh akhirnya biduk berlalu dengan – sampai – satu per satu ke pulau ini sampai.
Memang, untuk sampai kepada satu cita-cita, yang mulia begini dengan ide brillian ini, tidak mungkin jalan itu dipenuhi dengan harumnya bunga-bunga. Musti duri-duri dan bau-baunya kembang kentut-kentutan. Semakin dekat cita-cita itu sampai, semakin bau dia. Semakin berat.
Saya didampingi oleh Deputi (Wakil Kepala) Produk Intelijen: Bey Sofwan. Kemudian juga Mayor Jendral (Pol.) Atok Rianto beliau mantan Kapolda Kalimantan Selatan. Kemudian Sekretaris saya adalah Saudara Muaman Rachman. Kemudian Kolonel Abdul Mutalib Ambong. Direktur Luar Negeri BIN: Sukrisno. Komandan Satgas Operasi Intelijen Dalam Negeri: Joharman.
Ini semua Badan Intelijen Negara adalah Saudara-saudara Bapak/Ibu sekalian, diterima atau tidak diterima… mendaftar sebagai Saudara dan pengikut Al-Zaytun.” Saya juga bawa guru bahasa Arab saya, yaitu Saudara Jamaluddin. Ini 32 tahun di Arab Saudi. Sama dengan Pak Harto 32 tahunnya. … Dengan istri, non mana non, nah itu … istrinya yang cantik itu. Kemudian, Ajudan saya: Zainuddin Ibrahim.
Saya, sangat terharu dan bangga. Karena dulu sebagai Menteri Transmigrasi saya berusaha dan bekerja keras untuk membangun suatu yang disebut Islamic Village. Belum berhasil, keburu Pak Habibie jatuh. Baru separuh. Tahu-tahu kesalip sama Al-Zaytun !!
Konsep seorang Menteri kalah. Berarti Syaikhul Ma’had di atas Menteri!! Saya berbunga-bunga hati saya. Karena itu cita-cita kita sebagai seorang Muslim. Kita ingin ada suatu perkampungan Mulsim yang betul-betul bisa dibanggakan. Tidak seperti waktu jamannya saya masih kecil. Kalo kita ngomong Madrasah, ngomong Mesjid … itu dianggap masyarakat kumuh. Saya sekolah di Muhammadiyah dulu. Anak-anak sekolah Negeri itu, nggak ada yang mau deket-deket saya itu. Dikira saya bisanya ngaji aja!!
Tapi dengan seperti ini!! Merupakan suatu Center of Excellence dari Islam di Republik Indonesia. Di sini nanti, tempatnya. [tepuk tangan]. Di sini tempatnya anak kita digembleng. Saya dengar sudah sampai D-2, luar biasa!!
Karena terus-terang saya merasa sangat-sangat sedih. Karena banyak kawan-kawan kita, Saudara-saudara kita, ee … yang keluar jalur, sampai dicap teroris!
Dan pagi-pagi saya katakan: Awas!! Teroris di antara kita ada! Dihujat habis-habisan saya. Dihujat habis! Tapi … sebagaimana juga hati dan tekad saya membela kebenaran. Saya membela kawan saya yang benar dan MEMBELA AL-ZAYTUN.
SEMASA SAYA MASIH KUAT DAN ADA KUASA – begitu harusnya iman kita bukan? – DENGAN TANGAN. Kalau ini nanti tidak bisa, dengan mulut. Kalo tidak bisa baru dengan doa.
TAPI SEMASA MASIH BISA DENGAN TANGAN, SAYA HAJAR SIAPA YANG MAU MENGHUJAT TERUS!!!
(Sambil mengepalkan tangan kanannya Hendro priyono memperagakan gerakan memukul dengan tangan kanannya, di hadapan para hadirin, diikuti dengan gemuruh tepuk-tangan yang amat riuh].
Al Mukarrom, Syaikhul Ma’had. Ummi dan segenap keluarga besar Al-Zaytun yang saya cintai dan saya hormati. Marilah kita bergandeng dengan tangan. Bersama-sama menghadap hari depan yang cerah, yang dibawa dan dipandu oleh Syaikhul Ma’had. Dan semoga Allah S.W.T senantiasa meridhoi kita sekalian.
Seakan masih tak puas dengan statemen kontroversi di Ma’had Al-Zaytun, 6 bulan dan 1 tahun kemudian Hendro tampil kembali menegaskan sikapnya terhadap keberadaan Ma’had Al-Zaytun maupun terhadap para pengganggu Al-Zaytun dengan argumentasi melalui Harian Media Indonesia edisi Rabu, 18 November 2003 dan melalui sebuah buku Menegakkan Indonesia – Pemikiran Dan Kontribusi 50 Tokoh bangsa Berpengaruh; Penerbit – Grafindo Jakarta, Mei 2004, antara lain menegaskan pada alenia 2 dan 3 hal 510 :
“Disadari Oleh Hendro, bila sebelumnya banyak kelompok yang mempersoalkan keberadaan Ma’had Al-Zaytun. Tetapi dari berbagai penelitian dari epartemen agama bersama tim lintas sektoral, tak ada bukti-bukti bahwa terdapat penyimpangan di dalam pesantren itu. Kalau misalnya ada penelitian lain yang menemukan penyimpangan, ya kita luruskan, bukan malah kita bubarkan pesantren itu. Ini kan asset ummat dan asset Negara, harus kita pertahankan.
Disinggung apakah dia pernah mengecap ‘iblis’ bagi para pengganggu Al-Zaytun pada saat berkunjung ke pesantren Al-Zaytun Mei 2003, Hendro mengakuinya.
“Saya mengatakan iblis itu dalam konteks bagi pengganggu dakwah dan syi’ar Islam. Tak hanya itu, yang mengganggu dakwah dan syi’ar Islam bisa disebut Dajjal. Sebagai alat Negara, dirinya merasa wajib melindungi kelompok yang melaksanakan syi’ar Islam, apalagi benar-benar bisa menjadi asset nasional yang besar seperti Al-Zaytun”
Berdasarkan sambutan dua tokoh misteri dan kontroversi tingkat nasional di atas, terkuak hubungan erat antara sebuah lembaga pesanten Ma’had Al-Zaytun yang merangkap cover dari sebuah gerakan NII-NKA (Negara Islam Indonesia-Negara Kurnia Allah) dengan lembaga Non Departemen BIN (Badan Intelejen Negara) pimpinan AM Hendropriyono. Sinergi debut kontroversi antara lembaga pendidikan Ma’had Al-Zaytun pimpinan AS Panji Gumilang dengan lembaga Intelejen BIN pimpinan Hendropriyono memang menarik untuk dikritisi. Karena dalam sejarah pemerintahan sejak orde lama, orde baru hingga orde Mega – Hamzah saat ini, pemerintah bangsa dan negara Republik Indonesia belum pernah memiliki Badan Intelejen Negara yang carut marut, apalagi bisa dipimpin oleh seorang yang krodite, sepak terjangnya sangat kontroversi kecuali lembaga BIN di bawah Hendropriyono. Deretan berbagai kontroversi yang dilakukan BIN di bawah Hendropriyono bisa diinventarisir sebagai berikut :
Kontroversi BIN yang pertama di bawah kepemimpinan Hendro adalah mengangkat secara resmi seorang pengacara, Muhyar Yara yang berperan sebagai Humas atau Juru bicara BIN yang tanpa NIP, dan hanya berlangsung selama 2 tahun kemudian di PHK, dan mungkin tanpa pesangon.
Kontroversi BIN yang kedua adalah saat menugaskan Abdul Haris yang resmi anggota BIN melakukan penyusupan ke dalam gerakan Islam JI (Jama’ah Islamiyah), MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) sekaligus menjerumuskan berbagai gerakan Islam tersebut ke dalam aksi kekerasan dan terorisme. Namun dalam waktu yang sama Abdul Haris bersandiwara untuk ikut ditangkap bersama Al-Farouk, selang beberapa saat kemudian Abdul Haris justru berperan mewakili BIN, menjadi anggota tim pemeriksa atau penyidik bersama Mabes Polri terhadap Al-Farouk di Guantanamo Kuba.
Kontroversi BIN yang ketiga adalah saat menyatakan diri menjadi pengikut sekaligus backing Ma’had Al-Zaytun dan AS Panji Gumilang baik sebagai pimpinan pesantren maupun sebagai Imam atau Presiden gerakan Negara Islam Indonesia – Negara Kurnia Allah, yang kaya kontroversi.
Kontroversi BIN yang keempat adalah melakukan penghinaan, pelecehan dan pengancaman terhadap para peneliti, kritikus dan penentang kesesatan missi dan keberadaan Ma’had Al-Zaytun.
Kontroversi BIN yang kelima adalah saat menyimpulkan hasil penginderaan dini BIN terhadap missi dan keberadaan ma’had Al-Zaytun dan gerakan NII-NKA pimpinan AS Panji Gumilang secara bertolak belakang dalam substansi maupun diametral dengan hasil penelitian dari berbagai tim investigasi yang bersifat individual (para penulis) lembaga swasta (LPPI, LPDI-SIKAT, TIAS, FUUI dan sebagainya) atau dari hasil penelitian lembaga resmi pemerintah (MUI dan DEPAG)
Kontroversi BIN yang keenam adalah melakukan kebohongan publik, menyembunyikan dan memanipulasi data-informasi yang sebenarnya, antara lain melakukan politik pembiaran terhadap perwujudan maupun kontroversi Ma’had Al-Zaytun dan gerakan NII-NKA pimpinan AS Panji Gumilang yang melakukan manuver dan gerakan politik bersama partai politik PKPB dan GOLKAR dalam pemilu legislative April dan pilpres juli 2004.
Kontroversi BIN yang ketujuh adalah membiarkan keberadaan dan semua kontroversi maupun manuver politik Ma’had Al-Zaytun dan gerakan NII-NKA pimpinan AS Panji Gumilang yang dijadikan sebagai alat politik dalam menjalankan kekuasaan dan untuk kepentingan Megawati?
harga blackberry storm
November 9th, 2011 10:36 pm
Salam kenal, kalau berkenan mampir ke webku yach…