0
UA BLOG – Umar Abduh 05

CITIBANK, NII dan KARTOSOEWIRJO
Oleh John Helmy Mempi dan Umar Abduh

John Helmy Mempi (putra Dayak beragama Islam, masih berkerabat dekat dengan Letjen TNI Purn. ZA Maulani)

Umar Abduh

SELAMA INI CITIBANK dikenal sebagai almamater para bankir Indonesia. Banyak bankir terkemuka seperti Robby Djohan dan sebagainya adalah lulusan Citibank. Laksamana Soekardi yang pernah menjabat Managing Director Lippo Bank juga alumni Citibank. Laksamana dipercaya menjabat Menteri Negara BUMN pada kabinet Mega-Hamzah.

Selain Citibank, Astra juga merupakan almamater bagi para eksekutif. Banyak praktisi bisnis otomotif (termasuk sepeda motor) adalah lulusan Astra. Meski tidak sepopuler alumni Citibank, lulusan Astra bisa ditemui tidak saja di dunia otomotif tetapi juga di dunia perbankan, termasuk pada lembaga keuangan non Bank.

Pada periode tertentu, sering kita temui ada ‘perpindahan penduduk’ dari Astra ke Citibank atau sebaliknya. Rini MS Soewandi yang pernah menjadi President Director PT Astra Internasional, adalah alumni Citibank. Kini ia juga alumni Astra yang kemudian menekuni bisnis sepeda motor. Sebagaimana Laksamana, Rini dipercaya menjabat Menperindag pada kabinet Gotong Royong.

Di dalam dunia pergerakan, juga bisa ditemui institusi semacam Citibank atau Astra, yang menjadi ‘almamater’ bagi institusi atau tokoh pergerakan lainnya, yaitu NII (Negara Islam Indonesia) atau disebut juga dengan DI/TII (Darul Islam / Tentara Islam Indonesia).

NII diproklamasikan tanggal 7 Agustus 1949 oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK) di desa Malangbong, Tasikmalaya, Jawa Barat, antara lain untuk merespon kecenderungan pemerintahan Soekarno yang condong ke arah sekularisme. SMK sendiri lahir di Cepu, Jawa Tengah, tanggal 7 Januari 1905, bukan dari lingkungan yang ‘fundamentalis’, tetapi di bawah asuhan sistem rasional Barat melalui orangtuanya yang berusaha menghidupkan suasana liberal di dalam kehidupan keluarga.

Pendidikan formal SMK adalah Sekolah Kedokteran NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School), bukan sekolah agama seperti IAIN dan sebangsanya. Persentuhannya dengan Islamisme didapat melalui HOS Tjokroaminoto sekurangnya sejak SMK menjadi sekretaris pribadi pak Tjokro. Dari ‘rahim’ HOS Tjokroaminoto tidak saja lahir SMK tetapi juga Semaun (tokoh komunis Indonesia) dan Soekarno (tokoh nasionalis Indonesia).

Di jajaran kabinet presiden Abdurrahman Wahid, Ir. Nur Mahmudi (mantan Presiden Partai Keadilan) merupakan salah satu mantan petinggi negara yang pernah aktif di NII. Ahmad Sumargono mantan anggota legislatif dari PBB (Partai Bulan Bintang), pernah aktif di NII KW-9. Itu hanya sekedar menyebut dua contoh nama populer yang dikenal masyarakat.

Komunitas Tarbiyah (atau biasa disebut juga dengan IM alias Ikhwanul Muslimin) yang merupakan salah satu elemen Partai Keadilan (kini menjadi PKS, Partai Keadilan Sejahtera), adalah institusi (harakah) yang didirikan oleh orang yang punya riwayat NII, yaitu Helmy Aminuddin putra Danu M. Hasan (mantan Panglima DI/TII yang kemudian menyerah kepada pasukan Ali Moertopo, bahkan kemudian direkrut menjadi anggota Bakin).

Secara formal, kekuatan harakah NII sudah tidak begitu signifikan. Disamping NII sudah terpecah ke dalam berbagai faksi yang satu sama lain belum tentu rukun (bahkan saling menafikan), masalah kualitas sumber daya manusia dan ‘lumbung padi’ mereka juga tidak memadai. Yang agak lumayan dan paling menonjol adalah NII KW-9 pimpinan Toto Salam yang terkenal dengan pesantren Al-Zaytun.

Memang, secara formal NII sebagai institusi sudah semakin abstrak setelah sang Imam dieksekusi di tahun 1962. Namun semangatnya tetap hidup, apalagi bila ada kekuatan dari luar yang ‘bersinergi’ dengannya. Beberapa kasus ‘kanan’ yang terjadi di tanah air yang melibatkan orang NII, antara lain kasus Komando Jihad yang terjadi tahun 1977 dan seterusnya, melibatkan Adah Djaelani, sang Presiden, dan hampir seluruh tokoh penting NII lainnya. Yang patut dicatat, dalam tempo relatif singkat Adah Djaelani dan kawan-kawan berhasil mengkonsolidasikan ribuan orang. Kemampuan yang sama juga ditunjukkan AS Panji Gumilang, ketika ia memobilisasi massa NII KW9 yang berjumlah puluhan ribu orang untuk memilih Wiranto pada pilpres putaran pertama 5 Juli 2004 lalu di sejumlah TPS ‘khusus’ Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.

Dalam hal dukungan kepada Wiranto, tidak hanya datang dari Al-Zaytun, tetapi juga dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Di dalam tubuh PKS terdapat dua kecenderungan yang kuat, yaitu suara yang mendukung Amien Rais dan suara yang mendukung Wiranto. Dukungan kepada Wiranto terutama dimotori oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta, Lc. Selama ini, Fahri Hamzah dikenal sebagai aktivis Islam (mantan Ketua KAMMI), yang dekat dengan kalangan tentara (tidak hanya Wiranto). Selain itu, Fahri juga dikenal sebagai pendukung berat Al-Zaytun.

Contoh lain adalah kasus Talangsari, Lampung, yang terjadi 7 Februari 1989, dan mencuatkan nama Warsidi sebagai tokoh sentral. Menurut catatan, Warsidi adalah orang NII dari faksi Abdullah Sungkar (kini almarhum). Namun ia berbeda dengan Adah Djaelani. Warsidi tidak bersentuhan langsung dengan sang Imam SMK, dan hanya sempat menjabat sebagai “Camat” NII di bawah “Gubernur” Zainal Arifin (kini almarhum).

Persentuhan Warsidi dengan NII melalui Anwaruddin, melalui aktivitas pengajian yang diikuti Warsidi sejak 1962. Anwaruddin adalah aktivis NII yang bersentuhan langsung dengan sang Imam SMK, namun demikian Anwaruddin bukanlah petinggi seperti Adah Djaelani. Di dalam NII, Anwaruddin bukan ‘orang struktur’ (tidak punya posisi dan tidak punya garis komando). Yang mempertemukannya dengan Imam SMK adalah kesamaan pandangan tentang konsep negara Islam.

Setelah Anwaruddin meninggal, Warsidi bertemu dengan Zainal Arifin yang saat itu menjabat sebagai Gubernur NII wilayah Lampung. Warsidi pun ber-bai’at (sumpah setia) kepada Zainal Arifin, yang menunjukkan bahwa Warsidi pernah menjadi bagian dari (struktur) NII wilayah Lampung, meski kemudian menyempal (1987) dan membentuk komunitas sendiri di pedukuhan Cihideung, Dusun Talangsari III.

Zainal Arifin menerima tongkat estafet kepemimpinan sebagai Gubernur NII wilayah Lampung dari pejabat sebelumnya, Abdul Qadir Baradja, yang dituduh terlibat kasus peledakan Borobudur (21 Januari 1985). Zainal Arifin dan Baradja adalah NII faksi Abdullah Sungkar. Almarhum Abdullah Sungkar (wafat 23 Oktober 1999 di Bogor) lama bermukim di Malaysia (sejak 1985) untuk menghindari kejaran pemerintah Orde Baru.

Potensi radikalisme pada Warsidi mengalami proses aktualisasi ketika ia mulai digarap oleh aktivis dari Jakarta, antara lain Nur Hidayat yang pernah menjadi bagian dari komunitas NII faksi Abdullah Sungkar –khususnya di bawah pimpinan Ibnu Thayib alias Abu Fatih, yang oleh ICG (International Crisis Group), Ibnu Thayib alias Abu Fatih disebut sebagai anggota jaringan Jamaah Islamiyah (JI)– kemudian menyempal dan membentuk kelompok sendiri di Jakarta. Dua sempalan NII ini kemudian melahirkan kasus Talangsari (Februari 1989).

Contoh lain adalah tentang kasus peledakan di malam Natal, 24 Desember 2000 lalu, yang melibatkan para alumni Afghan, yang terdiri dari JI (Jama’ah Islamiyah) faksi liar bersinergi dengan –antara lain– NII faksi Ajengan Masduki. Boleh dibilang paling sedikit sekitar 90% para alumni Afghan yang ada di Indonesia adalah komunitas NII. Memang, NII-lah yang paling rajin mengirimkan pemudanya untuk ‘belajar’ di Afghanistan melalui peperangan langsung. Ini menunjukkan bahwa NII tidak pernah mati.

Begitu juga pasca kasus peledakan bom Kuningan 9 September 2004, terbetik kabar adanya keterlibatan anggota NII sebagai kaki tangan Azahari, sebagaimana diberitakan Harian Berita Kota 2 Oktober 2004: “Mabes Polri akhirnya berhasil memastikan pelaku bom bunuh diri di depan Kedubes Australia di Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, 9 September 2004 lalu. Berdasarkan hasil pencocokan DNA (Deoxyribo Nucleid Acid) serpihan tubuh yang diduga pelaku dan DNA keluarga tersanga, polisi menemukan sosok Heri Golun alias Igun (30), sebagai pelaku bom bunuh diri… Berdasarkan hasil pemeriksaan dari tersangka lainnya, Heri disebut-sebut merupakan salah satu anggota organisasi Negara Islam Indonesia (NII) KW-9 di wilayah Sukabumi, Jawa Barat…”

Dari belasan faksi NII yang ada, hanya sebagian kecil saja yang masih menganut garis keras, sebagian besar lebih memilih jalur tarbiyah (pendidikan), sebagian lainnya berusaha tampil lebih intelek dan menanggalkan identitas lamanya sama sekali. Bahkan ada mantan NII yang kemudian menjadi anggota salah faksi JI (Jama’ah Islamiyah) berujar, “saya akan mengubur NII hidup-hidup…”

Sebagai sebuah fenomena sosial-politik, “NII will never die, they just fade away…”

Leave a Reply